99designs do Logo Design and more...

Selasa, 22 Maret 2011

Relasi Tanda: Sebuah Pengantar

Selain tingkatan tanda, dalam semiotika tekstual juga terdapat relasi antar tanda. Tentu hal yang mendasari adanya relasi antar tanda dalam bahasa adalah sistem bahasa itu sendiri yang tidak memungkinkan tercapainya suatu mediasi konsep melalui satu medium acuan saja, atau satu kata saja. Demikian juga kode sosial tidak menyediakan ke-esa-an medium acuan konkret tunggal bagi suatu konsep untuk memiliki ekspresi bermakna, setidaknya diperlukan suatu paket tindakan yang khusus. Justru karena keragaman tanda dalam aturan main-prinsip perbedaan (difference) bahasa inilah, lahir cara-cara khusus untuk menggapai ekspresi bermakna, kode relasi khusus inilah yang secara disebut sebagai majas. Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis . Bentuk interaksi tanda-tanda dalam praktiknya setidaknya berada dalam bentuk Perbandingan, Sindiran, Penegasan, dan Pertentangan. Dengan bentuk-bentuk relasi tanda yang secara umum demikian:
Majas Perbandingan
1. Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
2. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
3. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung, seperti layaknya, bagaikan.
4. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya, bagaikan.
5. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
6. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.
7. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
8. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
9. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
10. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
11. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.
12. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
13. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
14. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
15. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
16. Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
17. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
18. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
19. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
20. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
21. Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
22. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
23. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
24. Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.
Majas Sindiran
1. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
2. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
3. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
4. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan.
5. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.
Majas Penegasan
1. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
2. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
3. Repetisi: Perulangan kata, frase, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
4. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
5. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
6. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frase, atau klausa yang sejajar.
7. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
8. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
9. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
10. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
11. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
12. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
13. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
14. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
15. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
16. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
17. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
18. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
19. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
20. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
21. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
22. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
23. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
24. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
25. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.
Majas Pertentangan
1. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
2. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase.
3. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
4. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
5. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.
»»  read more

Catwalk Citra Diri; Potensi Konflik Eksistensi Dalam Paradoks Globalisasi

Catwalk Citra Diri; Potensi Konflik Eksistensi Dalam Paradoks Globalisasi

Ketika saya melihat bahwa saya sendiri, maupun orang-orang lain yang agaknya tidak terlalu peduli dengan apa yang disebut sebagai Globalisasi. Saya bertanya-tanya apakah mungkin kita telah bosan mendengar istilah itu, ataukah sesungguhnya kita sangat asing dengan makna sesungguhnya. Bila anda, saya, kita semua mau melihat bahwa ternyata kita tidak bisa lepas dari proses yang bernama Globalisasi - lalu apakah Globalisasi itu?

Globalisasi memang adalah sebuah fenomena yang aneh di akhir abad ke-20, ia tidak sama dengan “Hubungan Internasional” maupun Interdependence. Fenomena Globalisasi adalah proses keterhubungan (Interconnectedness) seluruh pelosok bola dunia dalam tingkat extensity, Intensity, Velocity, dan Impact yang luar biasa dan belum ada sebelumnya.

Ruang dan Waktu menjadi relatif dalam proses Globalisai ini, dimana kita alami sendiri melalui begitu mudahnya akses pada media, baik Google.com yang kadang disebut Google mahatahu di dunia maya, maupun media audio visual serupa televisi, koran ,dan radio – rasanya tidak ada lagi yang membatasi pergerakan kita mencari informasi. Perkembangan media telekomunikasi telah memfasilitasi Globalisasi untuk melaju serupa percepatan gerak. Media memiliki peranan besar, namun kita tidak bisa menampikkan bahwasanya perekenomian lokal begitu dipengaruhi perekonomian global - tentu kita masih ingat peristiwa krisis ekonomi era 1998 yang masih berlangsung sampai sekarang yang nyata-nyata dipengaruhi oleh pola gerak ekonomi global. Sampai disini saja ternyata kita hanya sedikit tahu tentang Globalisasi padahal kehidupan sosial kita telah dan tengah berubah dalam kekuatan yang mengubah (transform) dari Globalisasi.

Kekuatan Globalisasi untuk mengubah ini jelas berdampak pada hidup bersama, berkeluarga, bahkan pada identitas pribadi. Ada dua gejala besar yang muncul, pertama munculnya gejala “detradisionalisasi” yang kemudian memunculkan post-traditional society , sedangkan yang kedua adalah munculnya upaya mempertahankan tradisi dengan cara-cara yang tradisional - inilah bagian dari Paradoks Globalisasi. Tradisi bukan menjadi pegangan satu-satunya lagi dalam kehidupan era Globalisasi, sebab dengan begitu banyaknya penemuan dalam bidang¬¬-bidang ilmu pengetahuan kita memang patut mempertanyakan ulang tradisi – mudahnya nasihat-nasihat orang tua tidak lagi hangat diterima orang muda. Sedangkan dipihak lain muncul fundamentalisme dan tribalisme yang berusaha memegang erat-erat tradisi sampai akhirnya melahirkan praktik-praktik yang kontras, seperti syariat berpakaian bagi wanita yang akhirnya kemudian melahirkan fundamentalisme baru ketidak-adilan Gender, juga munculnya fundamentalisme kesukuan.

Tradisi apapun memang tidak hilang, namun nyatanya memang tradisi adalah salah satu bagian dari sekian alat penafsir kehidupan. Dalam ulasannya I. Wibowo, SJ mengungkapkan bahwa ada gejala yang juga muncul dari Globalisasi yaitu Society Reflexivity yang sebenarnya mengatakan bahwa manusia sekarang memliki banyak pengetahuan dengan tersedianya begitu banyak media dan fenomena yang seolah tanpa batas, dan digunakan oleh manusia untuk mengenali dirinya sendiri. Di sini, kualitas pengatahuan itu tidak dipersoalkan, pengetahuan yang mudah didapat, diterima, dibandingkan, dan kemudian dipakai dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan demikian, Reflexivity memang berbeda dengan Reflection, dimana Reflection menuntut kedalaman, penguasaan dan identifikasi diri yang menyeluruh.

Kemajuan transportasi dan media informasi benar-benar telah membuat ruang tidak lagi terbatas waktu, segala informasi dari pelosok dunia yang jaraknya lebih dari ribuan kilometer hanya membutuhkan sepersekian menit untuk diunduh dan diketahui - tidak hanya pengetahuan saja, namun juga Impacts lain baik itu negatif atau positif seperti perubahan perilaku konsumsi maupun pergerakan bersama orang-orang seperjuangan dalam memperjuangkan cita-cita mereka. Hal yang paling sering kita temui dilapangan adalah dalam ranah kesehatan masyrakat, orang yang menderita penyakit dapat mempertimbangkan sendiri obat-obatan apa yang akan dikonsumsi. Ada pertimbangan obat-obatan dari ahli medis professional, juga ada pertimbangan obat-obatan tradisional yang informasinya entah dari omong-omong atau iklan. Bisa jadi dia memilih salah satu, dan nyatanya ada juga yang mengkonsumsi keduanya. Pada contoh ini kita dapat melihat bahwa arus informasi yang masyarakat terima lebih sering jatuh pada Reflexivity – penerimaan yang seringkali tanpa pertimbangan lebih dalam karena desakan informasi-informasi yang masuk itu. Pilihan yang diambil masyarakat kini seolah-olah bukan lagi pilihan mereka meski otonomi ada ditangan mereka, begitu meluapnya informasi dan sugesti yang masuk justru yang menentukan pilihan apa yang mereka ambil. Apakah produk yang menarik, kemasannya bagus, iklannya elegan, sertifikasi ISO2000 atau CE - adalah produk yang betul-betul masyarakat butuhkan? Bisa jadi tidak, namun nyatanya tetap saja laris manis bak kacang goreng.

Masyarakat pada masa-masa sekarang adalah sekumpulan orang cerdas yang memiliki segudang informasi pengetahuan yang dapat mereka pilih sesuai apa yang mereka sukai, karena itu tradisi yang cenderung kaku tidak dapat lagi menjadi pegangan satu-satunya apalagi ketika tradisi tidak bisa menjawab mereka secara meyakinkan - jelas tradisi akan ditinggalkan. Ini adalah otonomi manusia untuk menentukan pilihan-pilihan yang akan mereka ambil, tiap warga masyarakat memiliki otoritas mutlak tentang segala pembelajaran yang mereka pilih. Ternyata justru disinilah paradoks Globalisasi menjadi pergumulan hebat : kita memiliki otonomi untuk memilih apapun juga namun kita lupa untuk apa kita memilih.

Para aktivis sosial gusar karena Sang Guru berpendapat bahwa mereka lebih membutuhkan terang daripada tindakan. “Terang mengenai apa?” tanya mereka ingin tahu. “Mengenai apa itu hidup,” jawab Sang Guru. “Kami tahu bahwa hidup itu ditujukan bagi orang lain,” jawab para aktivis sosial. “Terang apa lagi yang kami butuhkan?” tanya mereka gusar. “Kamu perlu memahami apa arti kata bagi,” kata Sang Guru.

Penemuan diri, siapa kita ditengah arus jaman ini membutuhkan Reflection yang mendalam sebab tidak dipungkiri bahwa segala pilihan dan apa yang kita tampilkan ke masyarakat tidak dapat lepas dari desakan untuk tidak menjadi diri sendiri. Desakan-desakan itu jelas nampak pada media iklan, bahwa citra diri yang mewah berkelas adalah citra yang paling ideal, bahwa kulit putih lebih baik dari kulit gelap, dan saat ini kita terus menerus didesak mengikuti standart-standart citra diri ideal yang ditampilkan dalam banyak media. Bahka sikap-sikap yang nampak positif seperti bentuk-bentuk pekerjaan sosial, pelayanan kesehatan ke masyarakat miskin, atau aktifis sosial lain bisa jadi pilihan ini juga bukan berdasar pada jati diri kita namun desakan-desakan iklan citra diri ideal dan Reflexivity yang dangkal atas macam-macam informasi.
»»  read more